GAYA MANAJEMEN CURHAT


Benny Wennas, Direktur Utama PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM)
Terapkan Gaya Manajemen Curhat
benny.jpg
(SH/danang joko/gatot irawan), Sinar Harapan 2003
JAKARTA – Memenangkan persaingan dalam bisnis pembiayaan kendaraan bermotor, Benny Wennas, Presiden Direktur PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM) meyakini kuncinya ada pada manajemen. Pepatah yang terus diingatnya, “anda bisa membeli perusahaan saya, tetapi anda takkan bisa membeli manajemen saya”.

”Bisa saja WOM Finance dijual tetapi gaya manajemen saya tidak bisa dibeli,” kata Benny kepada SH yang berkunjung ke tempat kerjanya beberapa waktu lalu. Benny bisa membentuk gaya manajemen khas WOM Finance karena memang dia memimpin perusahaan ini sejak awal berdiri pada tahun 1997.

Sejak tahun lalu sampai awal tahun ini Benny banyak menuangkan ide guna mewujudkan pencanangan tahun solidnya manajemen WOM pada tahun 2004. Metode curahan hati (curhat) dan mentoring, six sigma adalah produk manajemen racikan Benny. “Saya menginginkan setiap karyawan yang baru bekerja di WOM ada yang membimbing sehingga para karyawan tidak merasa tersesat di tempat yang baru,” ucapnya.

Ia membuat suatu matriks dimana semua atasan menjadi mentor anak buahnya sendiri yang terdiri dari lima sampai sepuluh orang. Seorang mentor bertugas menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didiknya berkaitan dengan masalah pekerjaan dan berusaha membantu menyelesaikan. Dengan demikian ada orang yang memperhatikan, tidak seperti perpeloncoan yang tidak mengandung unsur pendidikan.

Keunikan sistem mentor yang diterapkan Benny ini, setiap orang bebas memilih siapa yang menjadi mentornya. Benny berkeyakinan jika semua itu dijalankan, semua karyawan akan senang dalam bekerja. Menurut keyakinannya, orang yang senang dalam bekerja, otomatis akan produktif. Benny menciptakan beragam gaya manajemen baru yang membuat WOM dinamis.

Hasilnya semua karyawan menjadikan WOM Finance sebagai rumah kedua mereka. Begitu ada orang yang membuka perusahaan pembiayaan baru dengan membajak karyawan WOM Finance niscaya takkan berhasil. Benny mengatakan usaha ke arah situ cukup banyak tetapi semuanya ditolak karyawan WOM. “Hal ini membuktikan manajemen saya lebih baik dari mereka. Mereka lebih percaya saya daripada orang lain,” tandasnya.
Kepercayaan itu bagi Benny sangat penting karena jika tidak ada kepercayaan, cepat atau lambat WOM akan kehabisan SDM yang andal padalah kunci memenangkan persaingan bisnis adalah kompetensi pribadi dan kelompok baru kemudian manajemen.

Ihwal Adira Finance yang hendak dijual dan nantinya akan berada di bawah Bank Danamon yang mayoritas sahamnya dimiliki Temasek Singapura, Benny mengatakan WOM tidak ingin mengikuti jejaknya karena ingin menjadi tuan di rumah sendiri. Karena akan bersaing dengan asing yang memiliki modal besar, Benny akan membenahi seluruh kondisi internal perusahaan dan lebih merapatkan barisan sehingga pada akhirnya WOM Finance pun tidak kalah dengan asing.

Kompetensi SDM di bisnis pembiayaan bagi Benny sangat penting karena produk yang dijual tidak berbeda, dalam hal ini motor. Bunga yang ditawarkan dan pelayanan pun sama sehingga yang membedakan perusahaan satu dengan yang lain adalah SDM-nya.

Semuanya memerlukan kompetensi SDM, tidak sekadar berani menjual dengan harga murah lantas calon pembeli berbondong datang.

Sejak dari dulu Benny berpikir bagaimana caranya memenangkan peperangan. Peperangan menurut Benny berbeda dengan pertempuran yang lebih bersifat jangka pendek. Ia kemudian memberi contoh menarik. Amerika bisa saja memenangkan pertempuran melawan Irak namun selanjutnya Amerika Serikat kehabisan akal sendiri karena tidak berhasil menemukan apa yang dicari.

“Secara jangka panjang, Amerika sebenarnya mengalami kekalahan. Pemboman toh masih marak terjadi terutama di konsentrasi pasukan Amerika Serikat”. Dari kasus di atas, Benny tidak ingin seperti Amerika yang menang hari ini, namun hari berikutnya kalah. Benny mendidik jajaran SDM dengan metode-metode yang ia ciptakan seperti curhat dan mentoring. Hasil dari metode curhat menurutnya sudah cukup bagus sementara mentoring yang baru berjalan awal tahun ini diharapkan juga demikian.

Untuk menjalankan metode curhat, Benny membuat satu divisi yang terdiri dari tiga psikolog. Tugas mereka mendengar bagian-bagian yang ingin didengar. Misalnya bagian keuangan didatangi untuk berbicara santai dengan mereka. “Isi pembicaraan itu biasanya berupa uneg-uneg mereka. Setelah selesai para psikolog tersebut kemudian berusaha mengidentifikasi keluhan-keluhan mereka dan menyimpulkan,” katanya.

Divisi ini istimewa karena posisinya berada langsung di bawah presiden direktur. Benny sebagai presiden direktur akan memetakan dan mengenali karakteristik dari masing-masing bagian dan personel. Dari situ bisa diketahui karyawan tersebut mengharapkan atasan yang seperti apa.

Berikutnya Benny akan memanggil atasan tersebut dan memberikan input berdasarkan apa yang didapat dari divisi curhat dengan tetap menjunjung kerahasiaan identitas karyawan.

Tujuannya, agar semua orang berani berbicara. “Kalau semua orang berani berbicara, bos tidak berani sembarangan dan tidak ada bos yang diktator. Kalau sudah begitu akan tercipta suasana kerja yang menyenangkan sehingga tak heran semua orang akan dengan senang hati bekerja dengan saya,” ucap Benny.

Six sigma yang juga dijalankan general electric adalah suatu filosifi manajemen bagaimana memperbaiki proses sehingga menjadi lebih baik, cepat, murah dan cerdik. Setiap hari terjadi peningkatan yang berkelanjutan. Benny mengaku menerapkannya dari buku dan juga dengan mengundang konsultan dari luar khusus untuk mengajari six sigma. Sekarang six sigma tersebut sudah dijalankan meski memang memerlukan waktu cukup lama. “Enam bulan lagi saya akan undang wartawan untuk melihat six sigma yang dijalankan di WOM seperti apa,” katanya.

Ditanya mengadopsi dari mana gaya-gaya manajemen seperti itu, Benny hanya tertawa. Ia sudah menganggap WOM sebagai perusahaan sendiri sehingga ia memainkan teori sendiri yang tidak bisa ditiru orang lain. Ia kemudian mengisahkan masa lalunya saat merintis karir sebagai bawahan. Tahun 1978 Benny bekerja di perusahaan pakan ternak Charoen Pokhpand di kawasan Ancol dengan gaji Rp 100 ribu. Delapan tahun di sana ia pindah kerja ke Gadjah Tunggal grup selanjutnya loncat lagi ke Ometraga Grup.

Dalam perjalanannya sebagai karyawan ia benar-benar merasakan apa yang didambakan seorang karyawan yakni suasana kerja yang kondusif untuk bisa maksimal bekerja. Kemudian Benny yang saat itu masih menjadi karyawan membayangkan bisa memiliki hubungan yang harmonis dengan atasan maupun dengan rekan sekerja.

Ia berangan-angan bila sudah menjadi pemimpin kelak akan menciptakan suatu perusahaan yang memiliki suasana kerja yang baik dan dicintai anak buah sehingga anak buah bisa berkarya secara maksimum tanpa ada paksaan. “Saya tidak ingin karyawan masuk ke kantor seperti mau masuk neraka. Kita mungkin diberi gaji tinggi tetapi setiap hari dimaki-maki atasan, hasilnya dipastikan tidak akan maksimal. Berbeda kalau kita menciptakan suasana kerja yang enak,” tandasnya.

Ia mencontohkan produsen sepatu Nike yang setiap harinya mengeluarkan banyak desain baru. Tempat pembuatan desain tersebut berupa satu auditorium besar dan luas tanpa sekat seolah tak berbatas. Rupanya rancang ruang kerja seperti itu membuat ide kreatif mudah lahir. Kesimpulannya, orang jangan dibatasi.

Di WOM finance Benny menciptakan kondisi yang kurang lebih sama. Di WOM, setiap karyawan yang ingin bertemu Benny tidak pernah dipersulit karena memang direktur utama bukanlah dewa yang tidak pernah bisa salah dan perlu ditakuti. Oleh karena itu Benny menciptakan budaya learning, sharing dan couching. Learning berarti ia pun tanpa segan akan belajar dari bawahan, sharing, ia ingin berbagi tanpa takut ilmunya akan diambil. “Kita di WOM menganut prinsip tabur tuai. Banyak menabur banyak pula menuai. Makin banyak berbagi, semakin banyak orang yang pintar sehingga kompetensi karyawan makin tinggi. Setelah membagi, saya melatih mereka sehinggi menjadi pandai. Budaya ini membuat orang tidak takut membagi ilmu,” katanya.

Sejak diangkat sebagai presiden direktur oleh pemegang saham pada September 1999, Bennny mulai fokus melakukan pembenahan manajemen namun pemikiran membuat perusahaan menjadi baik seperti mimpi-mimpi di kala muda sebenarnya telah muncul pada tahun 1997 ketika ia masih menjabat komisaris menjadikan perusahaan solid, setiap orang dengan senang hati bekerja untuknya. Kemudian Benny mulai memikirkan metode, visi, nilai-nilai yang baik dan karena seluruh karyawan WOM berani mengeluarkan pendapat, banyak ide-ide brilian yang muncul dari bawah.
“Produk-produk manajemen yang saya ciptakan seperti mentoring, curhat, six sigma dan lain-lain tak lain untuk mewujudkan mimpi saya menjadikan WOM salah satu perusahaan pembiayaan terbaik di Indonesia,” katanya. Visi WOM memang menjadi salah satu perusahaan pembiayaan terbaik di Indonesia pada tahun 2007. Sebenarnya saat ini pun menurut Benny, WOM tak kalah dengan para pesaing terutama dari segi kualitas pelayanan.

Persaingan Ramai dan Sehat
Persaingan di bisnis pembiayaan menurut penilaian Benny sejauh ini cukup ramai dan juga sehat. Untuk itu diperlukan manajemen yang bisa menghasilkan keputusan dengan cepat, tidak birokratis serta fleksibel. Perusahaan pembiayaan motor terbesar dari segi ukuran (size) dipegang FIF (Federal International Finance) kepunyaan Astra. Nomor dua Adira Finance dan ketiga WOM Finance. “Namun dari segi kualitas belum diketahui, silahkan orang lain yang menilai,” begitu katanya.

Selain pembiayaan motor, Adira Finance juga melayani pembiayaan mobil sedangkan FIF dan WOM bergerak di pembiayaan motor Honda. Bisa dikatakan WOM dan FIF bersaing di pasar. FIF tentu saja lebih kuat karena dimiliki Astra. Kedua, FIF mempunyai wewenang memaksa para dealer memberikan kepada FIF sedangkan WOM tidak punya wewenang. Jadi WOM bertarung bebas di pasar dan memaksa Benny harus bekerja lebih keras dan kreatif dari orang lain dan hasilnya WOM tetap bisa eksis.

Itulah manajemen, Benny menjawab singkat. Ia pun sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk bila Astra melarang WOM berkompetisi dengan FIF. Dari awal ia sudah memikirkan masalah kompetensi SDM. Keahlian, kemampuan, kelihaian individu harus menonjol. Ia mengibaratkannya berperang secara gerilya berbekal segelintir pasukan yang sangat terlatih dan teruji di lapangan.

WOM memang baru di posisi nomor tiga dari segi ukuran tetapi WOM menjadi benchmark atau acuan dari segi harga maupun pelayanan. Untuk kedua hal tersebut, kompetitor selalu berkaca pada WOM. “Di manapun WOM masuk, langsung harga turun. Saya cukup bangga dengan hal ini,” tandasnya.

Fenomena globalisasi menurut Benny akan menjadi pemandangan lazim di industri pembiayaan pembiayaan sama seperti yang sudah terjadi di industri lain seperti perbankan. Masuknya asing ke bisnis pembiayaan melalui pembelian perusahaan pembiayaan lokal akan terjadi dalam waktu dekat. Kalau WOM tidak dibeli asing maka harus bersaing dengan asing. Untuk itu Benny akan membangun manajemen yang baik.

Menengah Bawah
Bisnis pembiayaan adalah bisnis ritel dimana pembelinya notabene adalah masyarakat Indonesia terutama kelas menengah bawah. Konsumen WOM Finance rata-rata di level C yakni menengah bawah. WOM hadir untuk membantu mewujudkan impian mereka memiliki motor. “Sekarang hanya dengan membayar uang muka satu sampai satu setengah juta, konsumen sudah bisa membawa pulang motor.

Kekhawatiran bahwa masyarakat menengah bawah banyak yang mengalami kesulitan dalam membayar cicilan tidaklah beralasan. Lihat saja, kredit macet yang terjadi di WOM hanya 0,5 persen. Benny tidak menginginkan WOM terbaik dari segi ukuran (size) karenanya dibanding FIF, WOM mungkin hanya setengahnya. “Tidak masalah bagi saya karena perlahan WOM memperbaiki kualitas,” ucapnya. Menurutnya, indikator suksesnya sebuah perusahaan pembiayaan adalah kecilnya kredit macet dan manajemen penagihan. Itu penting, dan menurut pengamatan Benny dari indikator tersebut WOM merupakan yang terbaik

Kredit macet WOM memang relatif kecil dibanding yang ada di industri perbankan namun penanganannya agak banyak. Misalnya saja WOM setiap bulannya menjual 20 ribu unit motor leasing berarti terdapat 20 ribu nasabah. Sekarang nasabah WOM 200 ribu orang dan setiap bulan bertambah 20 ribu, yang lunas juga ada. Tak heran bila biaya operasinya cukup besar.

WOM kini memiliki 60 cabang dan sampai akhir tahun akan dikembangkan menjadi 70 cabang. Cabang-cabang ini perlu ditata kembali. Yang penting bagaimana menggali potensi yang ada di masing-masing cabang. Benny ingin mendidik mereka sebagai satu tim yang baik dan juga individu yang andal. “Tahun lalu saya membuka cabang cukup banyak dan belum sempat mendidik karyawan. Tahun ini saya ingin mematangkan orang-orang yang ada,” kata Benny.

Cabang sebanyak 70 buah sendiri menurut Benny belumlah ideal. Ia menyebut angka 80. tetapi ia mengatakan membuka cabang tidaklah mudah. Yang berbahaya, setelah dibuka tidak mampu mempertahankannya. Kedua, penambahan cabang membutuhkan perhatian ekstra dan seandainya gagal menjalankan pengawasan, bisa menimbulkan kerugian.

Motor Bekas
Awalnya WOM Finance hanya menjual sepeda motor merek Honda dan berlanjut sampai sekarang namun bedanya sekarang WOM juga sudah menangani motor bekas segala merek dan itu perkembangannya cukup baik. Ke depan tidak tertutup kemungkinan WOM menjual sepeda motor di luar merek Honda. “Sesuai dengan permintaan saja,” ucapnya.

WOM perlu mencermati lebih baik dan saya yakin kita tidak kalah. Asing memang kuat dari segi permodalan tetapi isinya lebih tahu kita. Lagi pula memang saya tidak berambisi untuk menjadi yang paling besar tetapi yang paling baik.

Benny mengaku sampai saat ini belum memikirkan kemungkinan WOM dibeli asing dengan alasan memiliki keterikatan batin yang kuat dengan para karyawan. Itu yang belum berani dipikirkan Benny mengingat hubungan batin yang terjalin dengan karyawan begitu indah. “Saya tidak bilang ini perusahaan keluarga. Saya tetap seorang professional yang memiliki sejarah panjang hubungan baik dengan para karyawan,” tandasnya.

One comment

  1. saya tertarik dengan tulisan bapak,bahwa SDM adalah asset yg sangat berharga ,untuk itu management curhat yg bapak terapkan sangat mengena langsung ke team dibawah bapak ,tanpa adanya batasan jabatan yg selama ini sebagai jurang pemisah yg sangat dalam & lebar ,sehingga kreatifitas ,ide2,semua karyawan akan muncul dengan sendirinya.Dan rasa memiliki ,rasa tanggung jawab,rasa kekeluargaan sangat besar seperti hubungan saudara kandung yg akan menjaga,melindungi,bahkan mengusir orang2 yg akan mengganggu artinya karyawan2 berkualitas tidak akan mudah dibajak oleh perusahaan2 lain walaupun dengan iming2 gaji,fasilitas yg jauh lebih baik dari perusahaan bapak ,karena mereka semua beranggapan kalau pindah maka keluarganya akan hancur lebur,,,salam sukses semoga hal ini terjadi ditempat kami & perusahaan2 lainnya di Indonesia sehingga pihak Asing tdk mudah untuk masuk,,,,,semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s