BUKA USAHA KARENA PESAN IBU


Pada awal 1990, pasangan suami istri Doni Ruyadi dan Yuyun masih berstatus sebagai karyawan. Doni bekerja sebagai ahli komputer dan Yuyun adalah sekretaris direksi di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Suatu hari ibu Doni yang terbaring sakit menanyakan kemungkinan anak dan menantunya itu untuk berwirausaha. “Kalau jadi karyawan itu bisa terkena PHK atau perusahaan bangkrut. Cobalah untuk membuka usaha,” kata sang ibu menasehati.

Bermula dari pertanyaan sang ibu dan memikirkan masa depannya, Doni dan Yuyun yang biasa menitipkan anak-anaknya kepada ibunya selama bekerja itu mulai tergerak hatinya untuk memulai usaha.

Apalagi darah bisnis sebenarnya mengalir di kedua pasangan ini, mengingat kedua orangtua mereka juga wiraswastawan. Sejak saat itu, mereka mulai memikirkan untuk membuka usaha.

Mereka memutuskan membuka toko yang menjual kacamata. Agar bisa fokus dalam berbisnis, perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini memutuskan terlebih dahulu keluar dari pekerjaannya sebagai sekretaris.

Bisa dibilang Yuyun bermodalkan nekat, karena dengan uang Rp1 juta dia mulai membuka usaha. Dana sebesar itu dibelikan kacamata. Dia memajang dagangannya itu di garasi rumahnya di Perumahan Taman Galaxy, Kalimalang, Bekasi, yang berukuran 3 x 4 meter.

Dia pun menawarkan barang dagangannya dengan membawa brosur ke kantor-kantor serta memberikan pemeriksaan mata gratis. Ternyata usahanya berhasil. Banyak yang memesan kacamata. Melihat prospek usahanya maju, Doni pun akhirnya ikut keluar dari pekerjaan.

“Ternyata berusaha itu kalau fokus, ditekuni juga bisa berhasil,” tuturnya kepada Bisnis.

Melihat bisnisnya berkembang, dua tahun kemudian, mereka mulai ekspansi dengan menyewa sebuah ruko di dekat rumahnya untuk membuka optik. Usahanya semakin maju hingga memiliki empat gerai kacamata yang tersebar ke beberapa pasar swalayan di kawasan Bekasi.

Usaha mereka berjalan mulus, sampai suatu hari terjadi kerusuhan pada 1998. Persediaan kacamatanya nyaris tak tersisa, karena hampir semua tokonya terbakar. Dari empat toko itu, hanya tersisa satu di Taman Galaxy.

Yuyun sempat depresi menghadapi cobaan itu, karena utangnya banyak. Setiap kali mendengar dering telepon atau tamu datang ke rumah, dia ketakutan karena mengira orang itu menagih utang

Waktu terus berjalan. Sembari makin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dia mulai berpikir untuk bangkit dari keterpurukan. Pasangan yang dikaruniai tiga putra dan putri ini kembali menata toko kacamata yang tinggal satu-satunya itu.

Mereka mulai melirik potensi bisnis lainnya, yaitu perawatan kulit yang saat itu belum banyak terdapat di kawasan itu. Lantas, mereka menjual obat perawatan kulit yang saat itu ternyata booming di pasaran.

Hadapi persaingan
Bisnisnya makin berkembang. Yuyun mulai ekspansi membuka salon kecantikan lengkap dengan konsultasi dokter. Hasilnya, juga booming. Semakin lama, ruangan salon terasa makin sempit karena pelanggannya makin banyak.

Akhirnya, dia membuka dua salon lagi di kawasan yang sama untuk dirancang dengan pelayanan one stop shopping atau memberikan pelayanan lengkap, mulai dari wajah, rambut, badan, butik hingga rias pengantin.

Kini tanpa terasa, usaha Doni dan Yuyun yang bernaung di bawah bendera Dewi Group ini telah berusia 15 tahun. Jumlah karyawannya pun kini telah mencapai 70 orang untuk mengelola empat ruko. Perlu diketahui, satu ruko di kawasan itu bernilai jual sekitar Rp1 miliar.

Meski persaingan di bisnis yang digelutinya itu semakin ketat, pemilik Dewi Group ini menyikapinya biasa-biasa saja. Mereka yang berprestasi akan tetap unggul.

Kalau tidak ada persaingan, menurut dia, bukan berbisnis namanya. Persaingan ketat itu justru mendorongnya untuk terus berinovasi. Menggali pengetahuan melalui buku, seminar, dan mendatangkan konsultan merupakan sumber inspirasinya dalam mengembangkan usaha ini.

Dia mengakui, berbisnis di salon kecantikan itu menghadapi kendala utama di bidang sumber daya manusia. Dari puluhan karyawan itu, ada saja yang perilakunya aneh seperti mabuk, merokok, dan lainnya.

Melihat situasi itu, Yuyun sempat shock, karena mengurus orang itu ternyata lebih sulit daripada berbisnis kacamata yang merupakan benda mati. Dia pun mulai memikirkan cara untuk menata SDM-nya.

Strategi pengelolaan SDM yang dipilihnya adalah dengan cara mengadakan pengajian rutin satu hari dalam sepekan. Hasilnya cukup mengejutkan. Pengajian itu ternyata mampu memperbaiki perilaku dan meningkatkan etos kerja karyawannya.

Sementara itu, dalam menggeluti bisnis ini, Yuyun mengaku tidak ngoyo, karena niat berbisnis ini juga untuk tujuan ibadah. Meski bergitu, Dewi Group selalu berusaha memberikan servis yang baik kepada pelanggannya.

Berbagai inovasi pelayanan disusun, seperti memberikan kartu keanggotaan dengan fasilitas diskon ke beberapa toko maupun hotel bintang. Bahkan, dia juga memikirkan untuk mengembangkan jaringan bisnisnya ini melalui sistem waralaba (franchise). (suli.murwani@bisnis.co.id)

Suli H. Murwani
Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s