Menaklukan diri sendiri, Meraih SUKSES


Handry Satriago: Menaklukkan Diri Sendiri, Meraih Sukses
ROY SEMBEL dan TIM MANDIRI

Salah satu filosofi manajemen mutu modern yang sedang populer dewasa ini adalah Six Sigma.

Sebuah konsep yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan konsumen sekaligus meningkatkan nilai pundi-pundi keuangan organisasi yang menerapkannya. Six Sigma menekankan penghilangan kesalahan, penghilangan ”sampah”, dan meminimalisir pengerjaan kembali barang yang cacat. Dengan demikian, biaya yang semula digunakan untuk hal-hal tersebut, dapat dikurangi sehingga keuntungan yang diperoleh organisasi akan meningkat.

Six Sigma merupakan simbol kesempurnaan penyelenggaraan manajemen mutu. Sigma merupakan simbol dari standar deviasi yang lazim kita temui dalam ilmu matematika dan statistika.

Dengan demikian, konsep ini mengukur besar penyimpangan yang terjadi dari proses yang dilakukan. Makin tinggi nilai sigma yang diperoleh maka makin sempurnalah proses yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Patut diketahui bahwa rentang nilai sigma yang digunakan adalah 1 hingga 6. Satu sigma berarti jumlah kemungkinan kesalahan yang dilakukan dalam sebuah proses adalah 999,997 kali dari satu juta kali kemungkinan. Sedang 6 (enam) sigma berarti hanya melakukan kesalahan sebanyak 3.4 kali dari satu juta kali kemungkinan.

Konsep ini bukanlah suatu konsep yang baru. Konsep tentang Six Sigma pertama kali diimplementasikan oleh Motorola pada tahun 1980-an. Namun dalam perkembangannya, justru General Electric-lah yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dalam konsep ini.

Kisah sukses penerapan Six Sigma ini tidak lepas dari kepiawaian CEO, para Champion, Black Belt, dan Green Belt yang melakukannya (baik Champion, Black Belt, dan Green Belt merupakan nama yang disandang oleh para pelaku Six Sigma). Salah seorang Regional Black Belt untuk kawasan Asia yang ditunjuk oleh General Electric adalah Handry Satriago. Pria yang memancarkan kepribadian yang kuat ini dengan suka cita membagi rahasia suksesnya dengan kita semua.

Simak uraian berikut ini: Handry Satriago dilahirkan di Pekanbaru pada tanggal 13 Juni 1969. Masa sekolah menengah dihabiskan di Jakarta tepatnya di SMA Lab School pada tahun 1985 hingga 1988. Tahun 1993, Handry berhasil menamatkan jenjang pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor yang dimasukinya tahun 1989. Dua gelar master, yaitu MM (Magister Manajemen) dari IPMI dan MBA (Master in Business Administration) dari Monash University, berhasil diraihnya tahun 1997.

Pengalaman kerja Handry diawali tahun 1994 sebagai assistant board of director for business development di GMT Group. Kariernya di General Electric diawali pada tahun 1997 sebagai business development manager. Di sinilah karirnya melesat hingga pada tahun 2001 yang lalu, Handry dipercaya sebagai Regional Black Belt untuk kawasan Asia. Kini Handry juga merupakan part-timer faculty member di IPMI dan pembicara di berbagai seminar dan workshop terutama yang berkaitan dengan aplikasi Six Sigma.

Sungguh, sebuah prestasi kerja yang luar biasa! Handry yang memiliki motto hidup ”semua yang kita lakukan adalah ibadah, jalani dengan cara menikmatinya”

ini menganggap sukses berarti ”dapat membagi sesuatu yang positif kepada orang lain”.  Sehingga menurut Handry, dalam konteks definisi sukses yang dimilikinya, ia sudah mencapai sukses.

Kiranya Handry berpedoman bahwa sukses sendirian bukanlah sebuah sukses yang sejati.

Lalu, apa saja kiat suksesnya?

Menurut Handry, kiat suksesnya adalah ”pantang menyerah, jangan takut pada perubahan”. ”Perubahan dan hambatan adalah tantangan yang sangat menarik untuk bisa diatasi dan diubah menjadi sebuah peluang untuk meraih kesuksesan., demikian penuturan Handry.

Patut kita sadari bahwa satu-satunya yang abadi di dunia yang fana ini adalah perubahan. Setiap perubahan pasti membawa konsekuensi tertentu entah itu positif atau negatif.

Perubahan yang negatif dampaknya bagi kita acap kita golongkan sebagai hambatan. Ini cara pandang biasa. Coba kita mulai dengan cara pandang yang berbeda. Dulu kita melihat gelas yang terisi separuh sebagai gelas yang terisi separuh. Kita tidak dapat melakukan apa pun mengenai hal ini.

Namun, jika kita mampu memandangnya sebagai sebuah gelas yang kosong separuh, maka banyak hal yang dapat kita lakukan untuk hal itu. Misalnya, menambahkan air ke dalamnya sehingga menjadi penuh atau menambahkan es batu sehingga air di dalamnya akan menjadi dingin dan segar untuk diminum di kala panas terik.

Cara pandang inilah yang diterapkan oleh Handry dalam setiap perubahan yang dihadapi dalam setiap detik kehidupannya. Bagaimana hasilnya? Handry Satriago adalah saksi hidup akan mujarabnya resep ini. Satu pesan berharga disampaikan Handry di penghujung kisahnya.

”Life is too short to worry. Enjoy it with whatever things that we got from God.”, demikian tuturnya.

Kiranya kisah kali ini mampu kita menyadarkan kita akan pentingnya sebuah cara pandang baru tentang kehidupan kita di dunia yang fana ini. Terima kasih banyak atas pembelajaran yang Anda bagi dengan kami semua. Kami tunggu gebrakan Anda selanjutnya. Salam, dan sukses selalu!

Sumber:
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/084/man02.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s