SUKSES GOOGLE (2)


Kisah Sukses Google, David A Vise dan Mark Malseed, Gramedia Pustaka Utama, xix + 361, Agustus, 2006
SUDAH sekitar satu dekade Microsoft tidak menemukan lawan setimpal di ranah bisnis internet dan komputer. Tak terlintas dalam pikiran Bill Gates bahwa lawan setimpal itu akhirnya muncul dari dua sosok anak muda, Larry Page dan Sergey Brin. Dua anak muda yang suka pesta dan makan enak itu, kini membetot seluruh sumber daya Microsoft.

Page dan Brin adalah dua pendiri mesin pencari Google. Dari sebuah proyek penelitian tingkat doktoral di Universitas Stanford, pertengahan 90-an, kini mesin pencari Google menjelma menjadi megaproyek.

Tahun 1998, Page dan Brin berhasil meyakinkan seorang investor yang bersedia menanamkan modal US$100 untuk pengembangan mesin pencari yang belum punya nama. Semua itu diperoleh setelah Page dan Brin dicibir beberapa investor dan pemilik perusahaan modal ventura di wilayah Silicon Valley. Para investor sudah tak yakin lagi bahwa booming di dunia internet akan berulang.

Dengan modal US$100 ribu, Page dan Brin berhasil meyakinkan kawan-kawan dan familinya untuk menanam modal hingga modalnya genap US$1 juta. Dengan tekad, keduanya cuti sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Stanford dan total mengembangkan Google–sebuah nama yang lahir karena salah ketik.

Ketika karyawan Google mencapai belasan orang, Brin meminta seorang koki berpengalaman untuk bekerja melayani selera karyawan yang ‘dijajah’ oleh McDonald. Brin dengan optimistis mengatakan, Google akan berkembang pesat dan menjadi tempat bekerja bagi ribuan orang tecerdas di muka bumi. Sang koki sangat bersemangat hingga akhirnya tahu bahwa kantor di Google tidak ada dapur. Ia akhirnya mundur teratur dan menganggap Brin hanya membual (hlm 220).

Ternyata Brin tidak membual. Ia hanya memamerkan sikap optimistis kepada orang yang salah. Perkembangan Google semakin menjadi-jadi, melebihi fantasi dan imajinasi paling liar yang dimiliki Page dan Brin. Padahal pada 1998, untuk menentukan siapa CEO dan Chairman Google saja, Brin dan Page memasrahkan pada hasil lemparan koin (hlm 240).

Semangat main-main, iseng, dan sekaligus serius terus mewarnai kehidupan di kantor Google yang diberi nama Googleplex. Ruangan Googleplex didesain meriah, dengan menempatkan camilan makanan di tempat strategis. Beberapa karyawan bahkan hilir-mudik dengan skateboard. Yang lainnya asyik main biliar atau berenang. Sebagian lagi bekerja dengan ditemani anjing kesayangan mereka. Dan yang terpenting, setiap makan siang mereka selalu mendapat menu yang sehat dan spektakuler. Tujuan Page dan Brin jelas. Karyawan harus ceria dan bahagia.

Ketidaklaziman di Googleplex ini menjadi buah bibir kalangan pekerja di Silicon Valley. Dikombinasikan dengan sikap royal Page dan Brin dalam membagi opsi saham. Secara teratur, insinyur-insinyur terbaik yang dimiliki Microsoft hengkang ke Google. Secara berseloroh penulis buku Kisah Sukses Google mengatakan bahwa Bill Gates seolah-olah memimpin sebuah biro tenaga kerja yang pekerjanya disalurkan ke Google.

Inilah yang membuat Bill Gates geram dan bertekad mencari cara melumpuhkan Google. Apalagi ternyata Google mulai main api dengan membajak karyawan Microsoft dan mulai meluncurkan lini produk yang selama ini dikangkangi Microsoft. Yang paling mutakhir, Google meluncurkan browser Firefox menantang kemapanan Explorer.

Tapi segala cara yang ditempuh Microsoft tidak mempan menahan laju Google. Karyawan-karyawan Microsoft tetap berduyun-duyun pindah ke Google. Lulusan-lulusan terbaik universitas mapan di AS juga mematok Google di daftar teratas untuk tempat meniti karier. Berkat produk-produk barunya, semakin banyak pengguna internet yang tergantung pada Google.

Semuanya membuat prestasi Google semakin tak terkejar oleh para pesaingnya. Bahkan belum genap setahun mencatatkan diri di bursa saham Nasdaq, kapitalisasi pasar Google sudah melampaui e-Bay, Amazon, dan Yahoo! Bahkan perusahaan berusia puluhan tahun seperti McDonald, Ford, dan Disney juga sudah dilewati Google.

David A Wise dan Mark Malseed dengan cekatan mampu membuat buku ini bak laporan jurnalistik yang enak dibaca. Meski secara umum disajikan secara kronologis, ada bagian tertentu yang diceritakan secara flashback. Dan semua itu sama sekali tidak memutus kontinuitas cerita.

Yang menakjubkan, meski menampilkan hasil wawancara ratusan narasumber, berbagai macam dokumen, serta berbagai rekaman media, Wise dan Malseed mampu dengan tangkas mengolah bahan tulisan tersebut sehingga pembaca merasa tak dijejali dengan data-data dan angka-angka.

Cerita sukses Google dalam buku ini begitu mengalir lancar. Hal ini tidak mengherankan, karena Wise sendiri adalah wartawan The Washington Post peraih Pulitzer Prize. (Harison Haris, peneliti lepas bidang komunikasi dan budaya, tinggal di Depok).

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/resensi/details.asp?id=494

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s