Kenapa Harus Pakai LINUX?


Kepaksa Pakai Linux: Pengalaman Seorang Newbie
http://joesatch.wordpress.com/2007/04/18/kepaksa-pakai-linux-pengalaman-seorang-newbie/
kenapa-linux.jpgSetelah sebulan make OpenSUSE (dengan format tampilan Gnome) di rumah, akhirnya aku berhasil menyimpulkan beberapa ketidak-nyamanan sebuah sistem operasi gratisan. Ya namanya juga gratisan, jadinya jangan pernah berharap performa senyaman menggunakan sistem operasinya Oom Bill. Kecuali lebih stabil (aku nggak pernah mengalami dikit-dikit memory dumping kayak di Windows), OpenSUSE menyimpan kelemahan-kelemahan umum, such as:
1. Altec Lansing AVS 300-ku serasa bukan Altec Lansing.
Jadi ceritanya, di SUSE aku pake Banshee buat player lagu-lagu bajakan milikku. Tapi ya namanya barang gratisan, ndak ada fasilitas buat ngatur equalizer-nya. Otomatis Altec-ku nggak optimal. Suaranya nggak selepas biasanya, kayak ketahan di dalam. Suaranya Faiz, gitarisnya X-Class, band indie asal Pemalang, di prototype lagu yang judulnya “Mahysa” – lagu ini lagu lama karangannya dia buat band-ku, The Poison Kings – yang aslinya butut, jadi semakin terdengar butut (kapan-kapan lagunya ta’upload kalo sudah rekaman resmi di studio). Pengumuman: Faiz ini speed gitarnya rodo nggilani (meski nggak senggilani Yngwie Malmsteen), tapi bicara soal kualitas vokal? Oho, maaf-maaf saja.

Jangankan Faiz, lha wong suaranya Judika “Indonesian Idol” yang nggombal habis-habisan itu, juga jadi jelek. Alhasil, aku nggak berani ndengerin suaraku sendiri via SUSE. Takut kecewa. Lha, kalo penyanyinya sendiri aja kecewa dengan suaranya sendiri, bagaimana mau mempertanggung-jawabkan performaku di hadapan publik? Band dengan massa terbesar se-MIPA Selatan Gadjah Mada ini bisa-bisa bubar gara-gara ditinggal penggemar.

2. Flashdisk nggak bisa di-detect kalo dari awal booting sudah kepasang.
Jangan sekali-sekali masang flashdisk sejak awal booting komputer. Mending masangnya entar-entar aja begitu masuk SUSE!

Entah kenapa, flashdisk memelas itu nggak pernah berhasil di-mount kalo sejak awal booting sudah nancep di slot USB. Tapi begitu dicabut dan dipasang lagi, wow, otomatis langsung ke-detect tanpa perlu di-mount lagi.

Sodara-sodari suka masang gambar latar di flashdisk via settingan desktop.ini? Nggak berguna. Di SUSE gambar latar seganteng apapun nggak bakal kelihatan. Yang tampannya audzubillah kayak aku aja nggak kelihatan, apalagi yang terlahir tidak setampan aku. Nggak percaya? Silahkan dites di Pogung Rejo B.19, Sleman, Yogyakarta.

3. Transfer file yang luambit banget.
Flashdiskku memang terkenal lambat. Barang murah soalnya. Sebijinya cuma $ 9, meskipun kapasitasnya nyampai 10 GB (kalo aku beli sepuluh). Tadinya aku pikir, itu memang pengaruh eksternal aja. Tapi kemarin malam, John Angga sudah membuktikannya.

Si John ini ceritanya mau ngopi 1 lagu dari Helloween yang judulnya “Future World”. Lagunya Helloween itu keren-keren, lho. Jarang bicara cinta. Biasanya bicara masalah kemanusiaan dan realita sosial. Tapi tentu saja tidak ada hubungannya antara tidak adanya tema cinta itu dengan kecepatan transfer. Pokoknya setelah ditunggu sampai lebih dari 15 menit proses transfernya nggak selesai-selesai, akhirnya komputernya ku-restart dan pindah ke Windows. Alhamdulillah, nggak sampai 1 detik, sebuah lagunya Hellowen berhasil tergandakan lagi. Kami-kami ini memang penggemarnya Captain Jack Sparrow, sang tukang bajak.

4. Mainan grafis mendingan jangan di sini.
Nggak banyak yang bisa kukatakan. Kalau sudah terbiasa dimanjakan dengan Corel atau Adobe, coba-coba mainan grafis di SUSE hanya akan menghasilkan pisuhan dan umpatan! Sudah, itu saja.

Nah, sekian saja laporan pandangan mata dari seorang newbie di dunia per-Linux-an. Tapi apapun itu, aku bakal lebih sering mengoprek sistem operasi yang ini ketimbang Windows. Bukan apa-apa, slot memory card-ku sudah agak kendor. Terlalu sering ditancep-cabut soale (bukankah barang apapun yang keseringan ditancep-cabut suatu saat pasti bakalan kendor? Mungkin untuk kasus-kasus kendor tertentu sudah ada solusinya. Masalahnya, sampai saat ini aku belum pernah nemu iklan dengan bunyi “Menerima gurah slot apapun di motherboard Anda”). Hal ini menyebabkan komputerku sering keluar blue-screen kalo nekat pake Windows. Tapi entah kenapa masalah seperti itu nggak pernah kutemukan di SUSE. Yeah, setidaknya sampai sejauh ini.


Kenapa loe pake Linux?
http://masiwan.wordpress.com/2007/01/24/kenapa-loe-pake-linux/
Mayoritas komputer di dunia pake Microsoft Windows, walaupun gw gak tau berapa percentasenya. Tapi Microsoft dapat dikatakan merupakan Sistem Operasi yang memonopoli pasar Operating Sistem di dunia.

Tapi gw gak pedulli mungkin karena semangat ‘anti kemapanan’ atau mungkin ada sebagian orang yang nganggep make sistem operasi Linux merupakan sebuah perlawanan terhadap ‘kapitalisme’. Gw gak peduli yang penting gw merasa nyaman pake GNU/Linux atau orang lebih suka dengan nyebutnya Linux aja.

Apa sih Linux itu? Well mungkin sudah banyak dibahas, Linux adalah sebuah Sistem Operasi yang diciptakan oleh Linux Tovalds seorang mahasiswa Universitas Helsinki. Pada tahun 1991 Linux Tovalds sedang mempelajari MINIX, sebuah mini Operating System yang menyerupai UNIX. MINIX beroperasi di atas Intel 386. Tidak puas dengan limisati yang terdapat pada MINIX, Linus menciptakan OS baru dengan inspirasi dari buku “The Design of The Unix Operating System” karangan Maurice Bach (Prentis Hall, 1986). Linux akhirnya disebarkan secara gratis di Internet beserta source codenya, kemudian Linux dikembangkan dengan bantuan banyak programer dan paker UNIX di Internet sampai saat ini.

Pada awal gw tertarik Linux yang merupakan Unix clone, adalah karena pada waktu kecil gw pernah denger sebuah sistem operasi selain DOS dan Windows 3.1 yang diklaim lebih ‘powerfull’ yaitu UNIX. Sistem UNIX ini dikenal multiuser, multitasking, dsb tapi jarang digunakan oleh orang biasa karena memerlukan mesin khusus dan sangat mahal.

Nah setelah beberapa tahun kemudian gw denger tentang sebuah sistem operasi UNIX clone yang ‘gratis’, ‘open source’? (pada waktu itu gw belum begitu paham tentang open source) dan dikalaim ‘powerfull’ sebagai sebuah alternatif dari sistem operasi komersial yang ada setelah membaca tabloid Komputek (Jawa Pos Group) dan membaca beberapa artikel di majalah komputer.

Linux yang di katakan dikerjakan dan dibuat oleh banyak orang yang bekerja sama melalui jaringan internet ini juga menarik perhatian gw. Kesannya Linux merupakan suatu sistem operasi yang ‘demokratis’ karena merupakan kumpulan sekian banyak pikiran manusia yang dikolaborasikan melalui internet untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama.

Baiklah pertama kali menginstall Linux adalah distro RedHat 6.0 bonus dari sebuah buku yg gw beli di Gramedia. Di CD RedHat 6.0 itu akhirnya kuinstall, didalamnya ternyata cukup lengkap, sudah termasuk KDE 2, Gnome tapi window manager yang paling gw suka adalah AfterStep.

Begitulah pengalaman awal gw memakai Linux, akhirnya setelah berganti2 distro dan mencoba berbagai macam disto Linux akhirnya distro Linux yang gw pakai saat ini adalah Edubuntu 6.06 LTS yang Cdnya gw dapet dari internet secara gratis ( http://shipit.edubuntu.org ).

Dan keliatanya Linux akan semakin ‘matang’ dan asik buat digunakan di komputer desktop, laptop dan server setiap orang menurutku. Misalnya apabila kamu mengenal Linux dan user interfacenya sudah sejak dulu mungkin akan mengerti gimana perkembangan yang pesat dari user interface di Linux, KDE dan Gnome. Dan kalau melihat user interface Linux saat ini gw nganggep Linux sudah semakin matang dan dewasa karena mempunya style sendiri yg dapat disejajarin bahkan lebih baik dari user interface OS lain seperti Mac dan Windows (XP dan juga Vista).

Apa yg gw harepin bahwa di masa depan Linux dapat lebih banyak digunakan lagi dan tentu saja harus tetap membumi karena Linux diciptakan suatu komunitas tentu saja harus mengerti akan kebutuhan lokal karena tersedianya source code menyebabkan Linux dapat diubah sesuai dengan kamauan kita.

Dan akhirnya kesan yg ditimbulkan bahwa Linux sulit atau Linux hanya spesial buat para geek adalah anggapan yg gak bener. Dengan melihat banyaknya distro Linux sekarang yang sangat mudah buat diinstall. Dan bahkan dapat dijalankan langsung tanpa diinstall ke harddisk seperti bayak distro yang installernya dapat berfungsi juga sebagai Live CD adalah satu kelebihan dari Linux yang gak terdapat di OS lainnya.

Saran gw bagi yang mau mencoba Linux mulailah dengan membeli sebuah distro Live CD misalnya: Knopix, PCLinuxOS, dll dan coba mejalankanya di komputer kamu. Selamat mencoba Linux!

gambar screenshoot linux dari OSDir.com screenshoot linux gw Edubuntu 6.06 LTS

Alasan saya kenapa pake Linux
http://okto.silaban.net/2004/11/linux/alasan-saya-kenapa-pake-linux/
Sebenarnya alasan utama saya pake Linux pada awalnya adalah karena saya senang
dengan dunia web. Dan tentu saja untuk tau tentang dunia web, kita tidak hanya belajar bagaimana mendesain suatu halaman web, bagaimana menghias halaman web, atau bagaimana merancag bentuk gambar untuk di halaman web. Hal yang tak boleh lepas adalah kita mesti mengerti tentang yang namanya server. Nah saat itu (sekitar bulan November 2003) saya sedang membuat situs SMA ku (www.titianteras.tk). Saat itu (sampai sekarang sih), saya menggunakan server UGM. Dan saat itu saya diberikan akses Shell account.

Nah saat itu saya bingung, apaan tuh shell account?? Terus apa gunanya?? Saya coba cari di Google, ternyata shell itu terdapat di keluarga UNIX (seperti UGM yang menggunakan Linux pada servernya). Jadi agar situs SMA ku itu bisa selesai saya mau tak mau belajar perintah – perintah dasar Linux. Nah.., dari situ mulai deh jatuh cinta.

Tapi itu hanya awalnya saja. Kemudian saya mulai ngerti yang namanya Lisensi. Jadi saat itu saya baru tahu, kalau kita nginstal Windows, kita mustibayar Lisensi yang besarnya gak sedikit (dengan kurs dollar sekarang, berarti sekitar 1 jutaan). Itu belum lagi termasuk software – softwarenya, karena tiap software bayar juga. Kalo ngikutin kayak gitu kan mampus bayar duitnya. Sedangkan dengan Linux, cukup sekali install, kita udah dapet sistem operasi + program – programmnya, dan semuanya gratissss……!!!

Alasan lainnya, karena saya sudah sering dengar + mengalami kemasukan Virus pada komputer yang biasanya terbawa/tersusupi di disket – disket 3 1/2 Floppy. Memang sih bukan berarti di Linux, enggak ada virus. Tapi dibanding Linux, Windows memiliki kemungkinan terserang virus 80%, walaupun dengan software – softwate antivirus yang berbagai macam dan terus diupdate. Sementara di Linux (saya pribadi + teman – teman saya yang pakai Linux), belum pernah ada yang terserang virus komputer nya. Jadi udah terbukti kan.

Ada lagi nih. Kalo di Windows, keamanan data itu lebih rentan daripada di Linux. Karena tiap file di Linux memiliki kepemilikan sendiri – sendiri, dan izin akses sendiri – sendiri. Sedangkan di Windows hanya bagian tertentu saja yang izin aksesnya dibatasi. Jadi, misal anda menyimpan data berupa file maupun direktori di drive D: atau E: window, semua orang yang menggunakan komputer tersebut bebas untuk menghapus, menambahkan, atau melakukan apa saja terhadap file tersebut. Sedangkan di Linux hal ini bisa diatasi dengan cukup mudah. Anda tinggal menggunakan CHMOD (suatu perintah untuk merubah izin akses suatu file atau direktori).

Masih ada?? Oh.., tentu ada sejuta alasan mengapa saya pake Linux. Contohnya lagi nih ya, untuk urusan program – program. Kalo di Windows kan kalo kita menginstal suatu program, biasanya harus bayar sesusai lisensinya, kecuali software- software yang memang disediakan gratis oleh vendornya. Dan dibandingkan dengan Linux. software- software yang gratis untuk Linux itu jauh lebih banyak daripada untuk Windows.Tetapi memang konsekuensi nya kita harus download dari internet.

Segitu dulu deh kata – kataku, semoga bermanfaat

Linux dan Virus
http://priyadi.net/archives/2006/04/18/linux-dan-virus/Saya termasuk yang sering memromosikan sistem operasi Linux jika ada kesempatan, dan salah satu hal yang sering menjadi argumen saya adalah Linux relatif bebas virus. Minggu lalu, detikInet mengabari bahwa ada virus baru yang menjangkiti Windows dan Linux sekaligus dan menganjurkan pengguna untuk waspada. Menanggapi hal tersebut, ada seseorang yang bereaksi dengan mengirim email kepada saya yang bernada ‘penuh kemenangan’, “Baca ini! Tidak ada OS yang 100% aman dari virus,” atau kira-kira seperti itu.

Pengirim email mungkin baru tahu bahwa ada virus di Linux, tetapi kenyataannya virus di Linux bukanlah sesuatu yang baru. Wikipedia mencatat virus pertama di Linux adalah Staog yang beredar secara singkat pada tahun 1996. Tetapi ada sumber lain yang mengatakan bahwa virus pertama di Linux adalah Bliss, juga pada tahun yang sama.

Wikipedia sendiri mencatat ada sekitar 14 virus Linux. Sedangkan VirusLibrary mencatat ada 7 virus. Symantec mencatat ada 3334 hasil pencarian terhadap kata kunci ‘Linux’, tetapi angka tersebut sudah termasuk rootkit, crack-ware, celah keamanan, trojan, dan hal-hal lain yang bukan virus. McAfee mencatat ada 100 virus Linux, tetapi dalam daftar tersebut juga ada beberapa exploit, DoS dan backdoor.

Sebaliknya, The WildList Organization dalam publikasi bulan Februari 2006 tidak mencatat adanya peredaran virus yang menjangkiti Linux.

Virus yang dimaksud pada artikel detikInet tersebut adalah virus Virus.Linux.Bi.a/ Virus.Win32.Bi.a. Keistimewaan virus ini adalah kemampuannya menginfeksi program di Linux dan Windows sekaligus. Walaupun demikian, virus ini bukanlah virus pertama yang dapat melakukan hal tersebut. Menurut Symantec, virus pertama yang dapat menginfeksi Windows dan Linux sekaligus adalah W32.Peelf.2132 (atau yang lebih dikenal dengan Win32/Linux Lindose.2132.A) yang ditemukan lima tahun yang lalu. Selain itu virus ini bersifat proof of concept, tidak berbahaya dan dibuat semata-mata untuk menunjukkan bahwa sebuah virus dapat menginfeksi Windows dan Linux sekaligus. Walaupun demikian, ada kemungkinan virus-virus ganas di masa yang akan datang akan menggunakan teknik tersebut.

Yang menjadi masalah adalah bahwa perusahaan anti virus dan media massa cenderung membesar-besarkan masalah virus di Linux ini. Virus di Linux memang sudah ada sejak dahulu kala, tetapi tidak pernah menciptakan masalah yang besar. Dan ketika ada virus baru yang bekerja di Linux, para vendor perangkat anti virus selalu berlomba-lomba untuk membesar-besarkan isu ini, terlepas dari apakah virus ini berbahaya atau tidak.

Tidak seperti pada sistem operasi Windows, virus di Linux sulit berkembang. Berikut adalah hal-hal yang menurut pengamatan saya mencegah Linux berfungsi sebagai medium penyebaran virus:
Linux adalah sistem operasi yang didesain sejak awal untuk lingkungan multiuser. Jika dikelola dengan benar, virus bisa saja menginfeksi berkas-berkas yang dimiliki oleh seorang pengguna, tetapi akan sulit untuk menjalar ke berkas-berkas yang dimiliki oleh pengguna lain.

Seorang pengguna tidak dapat memodifikasi berkas-berkas sistem. Ia dan program yang ia jalankan (termasuk virus) hanya dapat memodifikasi berkas-berkas yang ia miliki.

Seorang pengguna dapat saja menginstal sebuah aplikasi pada home directory miliknya, tetapi jarang aplikasi tersebut digunakan oleh pengguna lainnya.

Satu hal yang dapat menyebabkan virus tersebar adalah celah keamanan pada sistem. Sebagian besar virus Linux menyebarkan dirinya dengan memanfaatkan celah-celah keamanan tersebut. Solusinya bukan dengan menginstal aplikasi anti virus, tetapi dengan menutup celah-celah keamanan tersebut.

Pada Linux, sulit untuk mengeksekusi program secara tidak sengaja. Virus-virus masa kini seringkali menyamarkan dirinya sebagai aplikasi, folder atau dokumen. Tetapi pada Linux, hal tersebut sulit dilakukan.
Sebagian besar pengguna Linux tidak perlu lagi mengunduh (download) aplikasi secara manual. Kebanyakan distribusi sudah siap pakai untuk keperluan umum. Jika perlu menginstal aplikasi baru, hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan repository milik distro yang dipakai dan instalasi baru dilakukan setelah proses verifikasi yang berlangsung secara otomatis.

Seperti kata-kata Scott Granneman: “To mess up a Linux box, you need to work at it; to mess up your Windows box, you just need to work on it.” Jika ada sesuatu hal yang memungkinkan virus berkembang di Linux, maka hal tersebut adalah tanggung jawab vendor distribusi, dan bukan tanggung jawab vendor anti virus.

Walaupun faktanya sudah jelas, sepertinya pendapatan para vendor anti virus sangat tergantung pada ketakutan publik terhadap bahaya virus sehingga merasa perlu untuk mengeluarkan penyataan-pernyataan yang ‘menakutkan’. Sebagai contoh,Vnunet pernah memuat artikel Linux lined up as virus target yang berisi komentar dari seorang petinggi Trend Micro:

The onslaught of the Windows Goner worm warns us to watch for Christmas Grinches, but next year the warning may extend to Linux users as the operating system (OS) becomes more of a target.

“Of course we will see more and more attacks on Windows, but Linux will be a target because its use is becoming more widespread,” … “It is a stable OS, but it’s not a secure OS.” … “Of course it’s possible to write a virus for Linux,” … “But there is some prejudice amongst the virus writing community. If you write a virus for Windows, your peers clap their hands; write one for Linux and they’ll stone you.”

dan petinggi McAfee:

“In fact it’s probably easier to write a virus for Linux because it’s open source and the code is available. So we will be seeing more Linux viruses as the OS becomes more common and popular.” … “It’s not a target at the moment because the market isn’t there, but Li0n and Ramen have already proved that it’s on the menu,” he explained.

Sebagai informasi, artikel tersebut ditulis lima tahun yang lalu, dan sampai saat ini pengguna Linux masih merasa aman-aman saja. Famous last words?

Vendor anti virus lokal sepertinya juga tidak mau kalah dalam urusan ‘menakut-nakuti’ publik. Tahun lalu sebuah vendor antivirus lokal Vaksincom pernah membuat pernyataan Linux Jadi Target Virus Tiga Tahun Lagi.

“Virus bukan hanya untuk Microsoft saja, Linux paling cepat tiga tahun lagi bakal jadi target serangan virus, Itu sudah seperti hukum alam di pasar,” … “Nanti kalau Linux sudah mulai banyak digunakan, pembuat virus akan beralih ke Linux,” …

“70 persen web server di dunia pakai Apache. Hal itu sempat membuat kebat-kebit admin web server,” ujar Alfons. Dengan contoh kasus seperti itu, Alfons mengambil kesimpulan, Linux akan jadi ‘the next target’ virus apabila penggunaan Linux mulai setara dengan Windows. “Paling cepat tiga tahun lagi,” tegas Alfons.

Apakah ini akan menjadi Famous last words? Mari kita tunggu dua tahun lagi .

Sampai saat ini, aplikasi anti virus di Linux hanya berfungsi untuk membersihkan email yang masuk sebelum email tersebut sampai ke pengguna akhir yang menggunakan Windows. Atau untuk membersihkan file server dari virus-virus karena sering diakses oleh komputer berbasis Windows.

Virus memang perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti jika menggunakan Linux. Dengan santai namun tetap waspada, virus tidak akan menjadi masalah yang besar.

tip menguasai Linux secara cepat dan mudah
http://arifinez.blogspot.com/
…Saya kesulitan mempelajari Linux, mohon saran agar saya dapat menguasai Linux secara cepat dan mudah ?…

Sebuah pertanyaan singkat dengan jawaban panjang. Sebenarnya tidak ada yang sulit di Linux jika Anda sudah memahami dasar-dasar pengoperasian sebuah OS komputer. Jika Anda sudah terbiasa bekerja dengan Windows, maka dalam waktu singkat Anda akan segera memahami dan menguasai Linux.

Kesulitan yang dihadapi para pemula umumnya berkisar seputar pemilihan distro Linux (…ya, ada ratusan ‘jenis’ Linux di hadapan Anda !…), pemartisian dan teknik instalasi (tetangga pusing, data di harddisknya hilang semua gara-gara coba instal Linux !…), dan pengaksesan file-file data yang sudah ada (…bagaimana nasib data di Windows saya ?…). Permasalahan selanjutnya adalah pemilihan program kerja dan teknis pemakaian utility sistem di Linux. Berikut tip-tip untuk Anda :
Tip 1 : Pilih distro populer
Ya, cari informasi dan dapatkan CD instalasi sebuah distro yang populer di lingkungan Anda. Jika banyak rekan pakai Linux Ubuntu, kenapa tidak ikut pakai Ubuntu. Jika warnet sebelah pakai Linux SuSE, ya cari CD SuSE, biar bisa chatting di warnet sebelah. Semakin populer distro pilihan Anda, semakin banyak rekan yang memahami dan siap membantu kesulitan Anda.

Tip 2 : Pakai Live CD
Apa itu Live CD ?… Ini adalah salah satu inovasi penggunaan sistem operasi Linux. Anda tidak perlu menginstalasikan Linux atau mengorbankan isi harddisk Anda untuk mengoperasikan Linux. Dengan Live CD, Anda dapat menjalankan Linux secara aman pada komputer Anda (baca: Windows) melalui sebuah keping CD. Anda tinggal membooting komputer dengan Live CD, tunggu sebentar, nah… operasikan ‘komputer Linux’ instan Anda.

Meskipun dijalankan dari sebuah keping CD, Anda dapat menggunakan program dan utility Linux secara lengkap dan normal seperti jika Anda mengoperasikan sebuah Linux yang terinstal di harddisk. Selesai sesi ber-Linux dengan Live CD, Anda dapat kembali menggunakan OS lama di harddisk,seperti sediakala.

Saat ini ada beberapa pilihan distro Linux Live CD (nah!). Bingung pilih Live CD? ingat Tip no. 1 Jika sudah familiar dengan teknik pengoperasian Linux, baru instalasikan Linux secara permanen pada harddisk Anda.

Tip 3 : Baca dan baca !
Anda kesulitan mendapatkan rekan yang tangguh di Linux ? Jangan putus asa, Linux menyediakan dokumentasi secara lengkap mengenai berbagai hal sesuai topik, teknik, atau program yang ingin Anda ketahui. Sebagian dokumentasi bahkan sudah disajikan dalam bahasa Indonesia.
Dewasa ini juga sudah tersedia buku-buku Linux, pilih (…dan beli) topik buku sesuai kebutuhan Anda. Alternatif lain, di internet tersedia beragam artikel dan panduan teknis mengenai penggunaan Linux yang siap Anda download secara gratis.

Tip 4 : Sedia payung sebelum hujan
Backup seluruh data di harddisk Anda sebelum menginstal Linux. Pada banyak kasus, karena salah langkah, seluruh isi harddisk musnah setelah mencoba menginstal Linux. Siapkan keping CD secukupnya atau pindahkan data ke harddisk lain.

Semua menjadi lebih mudah dan cepat jika Anda menginstal Linux pada harddisk kosong / baru, tapi jika tidak ada, maka backup data selalu disarankan. Jika Anda telah menempatkan data pada folder tersendiri, partisi tersendiri, atau bahkan harddisk tersendiri, maka prosedur pembackupan dan pemulihan data (jika diperlukan) akan menjadi mudah dan cepat. Namun,
jika data Anda tersebar di berbagai pelosok folder, maka sekarang lah saatnya Anda belajar berdisiplin dalam mengelola data secara baik dan efisien. Lakukanlah sebelum semuanya terlambat.

Tip 5 : Buat apa repot ?
” …Kenapa saya harus pusing memikirkan hal-hal teknis, pilih distro, partisi, instal, backup, apalagi ? Saya pakai Windows juga tidak pernah dipusingkan cara instal, pilih OS, aplikasi, bla bla. Semua sudah siap di PC baru ! Saya hanya ingin pakai Linux biar aman dari sweeping, saya hanya membutuhkan PC untuk membuat surat dan laporan-laporan rutin saja !…”.

Begitu kira-kira ungkapan sang relasi. Ya, ada benarnya juga pemikiran ini. Anda tidak harus repot memikirkan hal-hal teknis untuk bekerja dengan komputer Linux. Di luar sana sudah banyak penyedia layanan teknis yang akan membantu proses peralihan sistem di kantor Anda. Sisihkan sedikit anggaran bagi persiapan sistem Linux di PC, dan Anda tinggal menggunakannya. Mudah seperti yang telah Anda lakukan saat memakai Windows.

Tip 6 : Banyak jalan menuju data
Sama seperti di Windows, Anda dapat bekerja dan memilih aplikasi tertentu untuk melakukan tugas tertentu. Anda hanya perlu mengetahui padan aplikasi dan alternatif-alternatif program yang bisa Anda gunakan. Linux memiliki beragam software untuk berbagai keperluan. Cara pengoperasiannya secara umum juga sama. Open, Close, Save, Copy, Paste, adalah istilah-istilah baku yang dapat Anda kenali di setiap program aplikasi, termasuk di Linux.

Sebagian besar aplikasi Linux mampu membaca dan mengolah jenis-jenis data yang telah Anda buat atau Anda miliki ketika memakai Windows. Misalnya file data olah dokumen, data olah angka, file presentasi, gambar, hingga koleksi film dan lagu. Lihat Tip 2 untuk membiasakan diri dengan aplikasi-aplikasi Linux.

Tip 7 : Siapkan kopi dan cemilan🙂
Ini yang paling Anda perlukan jika memutuskan menginstal Linux sendiri dan mulai mencoba program / utility di Linux. Bisa jadi Anda akan berlama-lama di depan monitor hanya untuk menunggu progress bar di layar segera selesai, sementara Anda belum bisa memutar MP3 kesayangan.

Selamat mencoba !

Akhirnya aku pakai LINUX di rumah
http://keluargarustamaji.blog.com/2006/2/
Setelah bertahun-tahun menggunakan software berbasis microsoft OS, mulai dari MS DOS, Windows 3.11, Windows 95, Windows 98, dan terakhir pakai Windows XP, sekarang aku harus beralih ke Linux. Yupe, otomatis semua software yang aku gunakan juga ganti dengan software sejenisnya yang jalan di Linux (thanks to UBUNTU team).

Weekend kemarin Mas Tras, suamiku, sibuk nginstal komputer di rumah, mindahin file-file lama dan kadang-kadang harus migrasi file tersebut biar bisa dibaca di “komputer baru”ku. Dan, setelah seharian ngoprek, akhirnya selesai juga deh. Nah sekarang aku pakai Firefox, Evolution, OpenOfice, GIMP, GAIM, RythmeBox untuk menggantikan Internet Explorer, MS Outlook, MS Office, Photoshop, dan Yahoo Messenger, Winamp.

Memang ada beberapa program sih yang belum ada gantinya di Linux😦, terutama program2nya Nadya seperti game-game Dora, Fun Fuctory, Anak Cerdas dll. Tapi itu adalah resiko dari keinginan kami pindah ke Linux. Mudah-mudahan kalangan komunitas Open Source ada yang tertarik ikut membuat program2 game melatih kecerdasan buat anak-anak. Atau sudah ada?

Kenapa kami pindah ke Linux? sebetulnya ada dua hal yang membuat kami pindah ke Linux. Yang pertama adalah karena kita ingin menggunakan software yang legal. Sebetulnya kita maunya sih pakai software2 yang kemarin kita pakai, tapi untuk membuat itu legal perlu dana yang tidak sedikit, nah kalau kemarin software yang kita pakai adalah software GPL (Glodok Pirated License), yang ini kita bener2 GPL (General Public License).

Penyebab kedua adalah karena ditriger kejadian beberapa waktu lalu di mana komputerku ternyata terserang virus Brontok, dan suamiku terpaksa ngabisin waktu seharian untuk bersihin komputerku! Sebetulnya dulu, waktu aku masih langganan GPRS Matrix yang 200 ribu unlimited itu, program Anti Virusku selalu update, jadi nggak pernah kena virus. Begitu gak langganan Internet unlimited, aku sering ketinggalan update anti virus. Nah, kata suamiku dengan Linux, akan lebih tahan terhadap virus. Tapi kami berharap hal ini tidak menjustifikasi kegiatan orang yang bikin virus di Windows dengan harapan semua meninggalkan Windows.

Untuk pembuat virus: Yang kalian lakukan adalah dosa, karena dengan virus tersebut produktifitas banyak orang menurun! kalau diterjemahkan dalam rupiah berapa kerugian negara kita? Daripada bikin software yang merugikan banyak orang, kenapa kalian gak bikin software yang bermanfaat? Misalnya software yang dapat menganalisa ingridient dari suatu “resep rahasia” dan otomatis menuliskan resepnya.

Apakah microsoft rugi? Nggak! karena yang pindah ke Linux adalah orang2 seperti kita yang software2 microsoftnya diperoleh dengan murah. Pengguna microsoft kalangan korporasi akan tetap menggunakan produk2 Microsoft, mereka “cuma” akan terpaksa mendownload security patch lagi. Tapi that’s all! Yang rugi adalah orang2 seperti kita yang terpaksa nggak bisa ngeblog seharian karena komputernya restart-restart terus, order dari orang lain terpaksa hilang!

Kenapa kami baru hari ini pindah ke Linux? kata suamiku, “karena hari ini adalah hari ulang tahunmu. Jadi sekalian ini sebagai hadiah untuk dikenang. Selamat Ulang Tahun Bunda Rina”. He..he..he.. ada-ada saja alasannya. Tapi emang bener lho hari ini adalah hari Ulang Tahun ku.

Apa Ruginya Mencoba Tidak Membajak?
http://nofieiman.com/2005/09/apa-ruginya-mencoba-tidak-membajak/
Di samping komputer desktop untuk pekerjaan harian, saya ada notebook mungil Toshiba Portege A200 yang memang digunakan untuk keperluan tertentu yang sifatnya mobile atau situasional. Di dalamnya sudah terinstal sistem operasi Windows XP dan paket Microsoft Office.

Karena memang iseng, timbul pertanyaan, “Bisa nggak ya notebook ini bebas dari barang bajakan?”. Setelah surfing dan cari info sana-sini, akhirnya memang terbukti bisa! Kecuali aplikasi bawaaan vendor (Windows XP dan Microsoft Office), notebook tersebut diisi dengan aplikasi-aplikasi yang sifatnya free atau open source.

Untuk melengkapi (dan bersiap mengganti) Microsoft Office, saya gunakan OpenOffice.org versi 2.0 beta. Guna keperluan office dasar, aplikasi ini boleh dibilang mumpuni. Namun, karena saya sering juga menggunakan macro atau formula matematis di Excel, entah mengapa proses integrasinya masih sering bermasalah. Tapi selebihnya, OpenOffice.org boleh dibilang jagoan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Sementara dua produk dari Mozilla, Firefox dan Thunderbird, saya gunakan untuk browsing dan email client. Selain itu, saya juga menginstal Filezilla untuk keperluan FTP dan Leechget sebagai download manager. Kalau perlu instant messaging, saya pakai Trillian atau Yahoo! Messenger.

Untuk keperluan membaca file PDF, saya gunakan Adobe Acrobat Reader atau Foxit Reader yang jauh lebih ringan. Untuk membuat file PDF, saya gunakan PDF Creator yang saya temukan dari Sourceforge. Sedangkan untuk archiving, saya gunakan IZArc dan WinRAR.

Selain itu, Paint.Net saya pilih sebagai pengganti Adobe Photoshop. Memang, fitur, plugin, filter, dan semacamnya masih kalah jauh dengan Photoshop. Namun untuk keperluan “biasa-biasa” saja, Paint.Net sudah lebih dari cukup. Ada pula software alternatif lain seperti PhotoPlus, tapi karena belum sempat saya coba, jadi saya belum bisa kasih komentar. Sayang, saya belum sempat coba Gimp for Windows. Untuk mengganti ACDSee, saya gunakan XNView atau Picasa.

Saya juga menginstal AVG, Avast, Free Antivirus, atau BitDefender untuk melindungi notebook ini. Tak lupa juga saya pasang Trojan Remover dan Rootkit Scanner sebagai pelengkap. Empty Temp Folders dan CC Cleaner juga saya instal sebagai ”cleaning service” untuk notebook ini.

Oke, mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Kebutuhan saya dalam komputasi juga tak terlalu njlimet-njlimet amat. Jadi, program-program yang saya tulis di atas juga program yang “aneh-aneh”. Monggo sekiranya ada yang mau menambahkan. Tapi sekedar untuk referensi, mungkin ada baiknya kunjungi beberapa link berikut ini:
Open CD http://theopencd.org/programs/
File Hippo http://www.filehippo.com/
Free Serif Software http://www.freeserifsoftware.com/default.asp
46 Best Free Utilities http://www.techsupportalert.com/best_46_free_utilities.htm
Unix Open Source http://www.apple.com/downloads/macosx/unix_open_source/

Mungkin muncul pertanyaan, kenapa nggak pakai Linux saja? Hmm.. Maaf, tapi mungkin GNU/Linux belum bisa cukup memuaskan saya. No, don’t get me wrong. Sejak 3-4 tahun yang lalu, saya sudah bermain-main dengan Linux dan BSD. Percobaan saya dimulai dengan RedHat 6.2, lalu naik ke RedHat 7.3, kemudian sempat juga Mandrake 8.1, FreeBSD 4.8, hingga SuSE 9.3, FreeBSD 5.2. Itu belum termasuk distro-distro “iseng” seperti Knoppix, Xandros, Lycoris, FreeSBIE, SimplyMEPIS, Games Knoppix, dan semacamnya.

Linux memang bagus, tapi rasanya belum pas saja buat saya. Kita belum bisa cut-copy-paste seenaknya di Linux. Kita juga perlu compile kernel agar Linux bekerja dengan lebih “pas”. Kompatibilitas dengan hardware juga belum sempurna (meski sekarang memang sudah menuju ke arah itu). Selain itu, saya juga belum mendapatkan pengganti Excel yang betul-betul mumpuni. Subyektif memang. Tapi setelah rilis kernel versi 3.X atau SuSE versi 12.X, I’ll give it a try.

Saya Tertarik Memakai Linux…
Di salah satu diskusi di mailing list Alumni Pustena, saya sempat mencetuskan kalimat retorik, “[…] agar ketergantungan terhadap perangkat lunak komersial diimbangi dengan belajar produk alternatifnya.” Seorang teman, Badrus Zaman, tertarik dengan “pernyataan” tersebut dan memaparkan pengalamannya dalam memilih distribusi GNU/Linux, sebagai berikut,

Hampir sebulan ini saya tertarik untuk memakai Linux. Saya cari berbagai tulisan di internet tentang distro Linux dan cara mendapatkannya, akhirnya saya beli 3 distro dari suatu situs: Mandriva (Mandrake Linux) LE 2005, Suse 9.3, dan PCLinuxOS. Murah kok, hanya Rp 5.000,-/CD ditambah ongkos kirim Rp 10.000,- (jadi hanya Rp 70.000 saya dapat 12 CD). Saya instal di komputer kantor. Wah senang sekali ketika saya pertama pakai Mandriva, gampang instalnya. Saya senang pakai desktop KDE, tampilannya mirip Windows. Selain KDE, di Mandriva juga ada Gnome dan beberapa desktop lainnya. PCLinuxOS juga menyenangkan karena tidak perlu diinstal. Sedangkan Suse katanya sangat bagus untuk mengenali hardware yang terpasang. Komputer saya di kantor pakai prosesor Pentium 4 dan memori 256 MB.

Ketika saya berniat menginstalnya di komputer rumah yang cuma pakai prosesor AMD Duron 800 MHz dan memori 128 MB, saya khawatir spec komputer saya tidak memadai. Saya cari di internet distro Linux yang ringan, gampang diinstal dan semudah Windows memakainya. Dari GudangLinux Migration Center (http://www.gudanglinux.net/gmc/index.php) saya dapat rekomendasi untuk memakai Ubuntu. Setelah saya lihat di websitenya, ternyata Ubuntu pakai desktop Gnome. Saudara kembarnya adalah Kubuntu yang pakai desktop KDE. Akhirnya saya beli lagi: Kubuntu dan beberapa distro ringan lainnya.

Saya coba distro-distro ringan tersebut di kantor dulu. Hasilnya memang masih banyak kekurangan. Kubuntu tidak mengenali dengan baik monitor GTC yang dipakai, akibatnya resolusinya jadi maksimal tinggal 800×600. Kalau monitornya diganti Samsung jadi bagus resolusinya. Knoppix susah setting networknya. Yang paling bagus dari yang saya beli, saya rasakan adalah Linspire, tapi jalannya berat kalau pakai memori 128 MB (di kantor kan banyak komputer, cari yang RAM-nya 128, pinjam dulu). Dll, yang semuanya masih belum seperti yang saya harapkan.

Saya jadi bingung untuk beralih ke Linux untuk menggantikan Windows 98 saya di rumah. Belum lagi mikirin bagaimana menjalankan Holy Qur’an saya di Linux.

Kutipan di atas disalin langsung dari email yang dikirim Badrus.

Komentar saya selanjutnya pada ulir diskusi tersebut:
Bagian yang paling sulit pada sosialisasi perangkat lunak bebas (Free Software) di Indonesia adalah melawan keengganan calon pengguna. Pemakai komputer yang terbiasa dengan Microsoft Word enggan mencoba Open Office atau Latex atau calon pelanggan Warnet juga keberatan dengan Linux karena dianggap kehilangan kesempatan mengobrol menggunakan layanan multimedia.
Tentang Holy Quran yang memang ditulis untuk keluarga Microsoft Windows, alternatif yang dapat digunakan adalah dijalankan di atas Wine (Wine Is Not Emulator!) atau pasang solusi Holy Quran berbasis Web yang dikembangkan oleh Ismail Fahmi.

Yang penting: mau mencoba dulu dan berusaha mencari alternatif.

Soal MoU Microsoft
Onno: Sampai Kapan Rakyat Dibodohi?
http://www.detikinet.com/index.php/comments/tahun/2006/bulan/12/tgl/20/time/104429/idnews/722266/idkanal/399/awal/10/akhir/19/p/2

Pemerintah dan Microsoft telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait Hak atas Kekayaan Intelektual. Utamanya soal penggunaan piranti lunak legal di kantor pemerintahan.((wsh/wsh))

Komentar terkini:..
Tux Power, Beli windows mahal-mahal buat liat BSOD doank, :)), mendingan Linux.
panji, pemerintah itu memang gak pnya ati nurani masak program luar negeri dibayar mahal sedangkan program kita sendiri dbayar murah dasar kurang ajar……… kang onno ayo bikin alat yang lebih canggih lagi agar semua bangsa kita bisa akses internet murah dan tidak gampang dibodohi bangsa asing kami selalu mendukungmu kang onno metro tv 6 mei 2007 prog:elifestyle spt kata kang onno klo bangsa kita terutama sekolah2, perguruan tinggi semua dapat mengakses internet secara gratis maka habislah malaysia dan singapura hidoep kang OONNOOO panji_0787@ce.its.ac.id

Gurniwa Gun, hamba merindukan pemimpin yang adil dan bijak, serta bertangan besi bg para koruptor dan mafia terselubung. wassalam

dini, saatnya migrasiiiii…….hancurkan microsoft…pindah ke linuxx

Omax Carpe Diem, hehe..:D, menurut gue, pakai windows sih gpp, asal…, negara kita kaya tp rakyatnya bodoh-bodoh, dan terus bodoh, kalo Bang LETTO bilang: Mungkin Sampai Nanti, Sampai Mati…

erick alvino, mr onno, sy sngt setuju dgn pendapat anda tp kira2 kalo misalnya semua pc yg ada di pemerintahan dan swasta di ganti dengan open source berapa lama kira2 waktu yg di perlukan utk pelatihannya. Dan mengenai sistem database yg sdh berjalan di windows, apa langsung bisa di jalankan di sistem open source ( linux ). karna menurut pengalaman sy pribadi, justru hambatan sebenarnya datangnya dari pengguna pc itu sendiri, dimana rata2 sdh pd tdk mau belajar sistem os baru. karna menurut mereka dgn yg skrng sj sdh mencukupi utk keperluan dia, jd buat apa dia harus belajar os lain. nah kira2 mr onno punya solusi yg tepat utk msalah ini. Btw kpn buat buku baru lagi. kalo bisa tlng terbitkan buku untuk linux redhat enterprise IV. thx
firman_didiet, RAKYAT ATAU PEMERINTAH YANG B O D O H YA……

Widow Asli, Gimana sih pemerintah ini? belinya pake duit rakyat mestinya buat rakyat juga. Jgn rakyat yg diperas terus deh. Moga pemerintah kembali ke jalan yg benar !! Buat pakar open source juga jgn omong doang, yang aktif dong gimana rakyat bisa pake open source dengan mudah, byk yg masih gak ngerti tuh. Pinter tp bego juga kayaknya.

Mas Wage, Pemerintah mungkin mikirin pegawai negeri yang bakal pake MS………soalnya kalau mereka suruh pake Linux….bikin KTP bakal 3bulan jadinya paling cepet. Yg pada tau Linux kan mahasiswa,it ers. Make MS aje masih gagap…..kaya gue he he.. IGOS perlu diperjuangakan ..bravo KK, yg nggak asal ABS.

PNS_Bolot, tahun 1998, saya sempat terlibat proyek migrasi OS dari unix/windows ke linux di suatu instansi pemerintah. Setelah melalui serangkaian tes dan uji coba, ternyata linux layak dipakai dan proyek tersebut disetujui untuk dijalankan. Tapi migrasi sistem tersebut batal di tengah jalan lantaran bukan karena linux jelek, tapi karena linux tidak price-nya, alias gratis, alias tidak bisa di-mark-up nilai proyeknya. Weleh2… ( sampai sekarang instansi tersebut masih pake Mikocok..)

YouTha, Embeeer… gue juga bekas programmer, bikin program udah susah-susah dibayar murah, kalo udah jadi eh dibajak juga… Tapi kalo pake program luar negeri yang harga-nya berjut-jut dollar dibayar juga.. nasib-nasib orang kita tidak percaya sama orang sendiri…..

Andre, Buat ngoding,ngoprek2 : Linux (kadang BSD) Buat ngegame : Windows … Selama Linux blom punya game2 yg keren kaya di Windows, yah gw tetep make Windows (biarpun jarang)
Den Baguse, Saya setuju dgn pendapat Hijrah Saputra, kita harus lebih dewasa dalam menyikapi hal ini. Bicara memang lebih mudah daripada menjalankannya. Apalagi ada unsur uang yang membuat iri orang lain. Kita juga harus lebih obyektif dalam melakukan penilaian, kenapa Microsoft bisa lebih menguasai pangsa software daripada Linux? Jika Linux ingin menguasai pangsa software dan dikenal oleh masyarakat, ya kita harus mengikuti cara kerja marketing Microsoft yang terbukti sukses (walaupun ada trik curang…tapi itulah dunia marketing, gak beda jauh dgn politik). Jadi, para pecinta Linux silahkan dipikirkan bagaimana supaya Linux bisa diterima oleh masyarakat kita.
rakyat indonesia, wah kami salah pilih dalam PEMILU !!! menyesal deh 7 turunan. Tuhan berilah kami pemimpin yang Bijak dan mementingkan rakyat jelata. hiks.. hiks..

Rahmad Evan, Bapak-bapak ibu-ibu, tenang, tenang dulu, coba kita cermati, bukannya saya membela sby, atau microsoft, tetapi paling tidak sby telah membantu kita mendapatkan begitu banyak lisensi office yang gratis, tinggal ambil cd kosong salin serial numbernya beres dah. Khan yang beli pemerintah, pemerintah kita, wong kita yang milih. Klo mau terkenal, seperti MS, ya lakukanlah, kirimkan produk ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, intansi pemerintah, kalo dah semua pake gak open source ya Microsoft Gak laku. sifat open source khan cuma komplementer.
kinna, buktinya? saya pakai produk os(openbsd,freebsd,gentoo) sejak 2 tahun lalu, dan sejak dua tahun itu pula tidak menyentuh winderz(jijik aku…). Open source (not just linux!!) bakal menggusur windows itu pasti, tinggal tunggu waktu aja…

ardh14, ngomong2 klo ceritanya pemrentah bikin tender dgn ms,kumaha nasib IGOS teh?? karunya LIPI cape2 nyieun teu diwaro….susah memang klo jadi pejabat yg mental karyawan.pikiranna cari nafkah wae…
Kautsar, Di Indonesia banyak orang pintar, tapi sayang pemerintahnya lebih banyak yg bodoh! Termasuk tuh yang namanya SBY, ga punya inisiatif bisanya ngomong tok.
TukangSoftware, sumpah susah training orang2 pemerintahan kalo ada model baru (IGOS), saya sudah sering training pegawai2 pemerintah .. sodara2 sekalian .. sumpah suuuusaaahh banget, mereka maunya yang double klik langsung jalan semua gak pake seting2an kayak open source, gw gak bela pemerintah or onno, cuma ambil jalan tengahnya aja kalo untuk kepentingan end user cari yang paling familiar dan gampang, ya mgkn windows, yakin lah sumpah .. susah banget ngajarin pegawai negri

dion, “PAKAI LINUX AJA DEH GRATIS” kata2 yang diketahui orang awam. kita gak usah ngomong open source2. orang2 kita kagak mudeng. gak ngerti

Pemimpin Pintar, Pemimpinnya mungkin saja kepintaran? atau terlalu bodoh dari pada rakyatnya? Kenapa tidak di diskusikan terlebih dahulu? padahal ada beberepa departemen yang mengerti IT? Apakah memang sengaja juga sebagai bagian dari proyek yang bisa mendatangkan untung pribadi? Seharusnya para petinggi melihat kebawah sebelum mengambil keputusan! untuk lain kali yah! Lalu kalau sudah begini bagaimana? Apakah bisa ada solusinya? Dari Rakyat kecil

sarkasz, udah gak usah salah menyalahkan..skrg bisa gak ini internet nyala?

Jendela Nista, bukan membodohi, tapi menistai.

Pemimpin Pintar, Pemimpinnya mungkin saja kepintaran? atau terlalu bodoh dari pada rakyatnya? Kenapa tidak di diskusikan terlebih dahulu? padahal ada beberepa departemen yang mengerti IT? Apakah memang sengaja juga sebagai bagian dari proyek yang bisa mendatangkan untung pribadi? Seharusnya para petinggi melihat kebawah sebelum mengambil keputusan! untuk lain kali yah! Lalu kalau sudah begini bagaimana? Apakah bisa ada solusinya? Dari Rakyat kecil

Pemimpin Pintar, Pemimpinnya mungkin saja kepintaran? atau terlalu bodoh dari pada rakyatnya? Kenapa tidak di diskusikan terlebih dahulu? padahal ada beberepa departemen yang mengerti IT? Apakah memang sengaja juga sebagai bagian dari proyek yang bisa mendatangkan untung pribadi? Seharusnya para petinggi melihat kebawah sebelum mengambil keputusan! untuk lain kali yah! Lalu kalau sudah begini bagaimana? Apakah bisa ada solusinya? Dari Rakyat kecil
beton, betul kata pakde onno nih, sampai kapan kita di zhalimi oleh pemerintah. kalo itung2 an dana segitu gede buat beli beras dah bisa ngasih makang orang sekampung, malah dikasih ke juragan windows, dan lagi kenapa sih pemerintah kok gak menggalakkan open source aja lha wong kita punya banyak ahlinya kok. oala pemerintah tambah lama kok tambah gob**k, malu sama tetangga sebelah nih.

Edi, Yang memegang Pemerintahan sibuk berbisnis , Yang jadi oposisi sibuk persiapan Kampanye untuk pemilu 2009. Siplah , emang itu terus menerus dilakukan. Wong Pak Wapres aja Gaptek koq , apalagi anggota DPR….dah dah, yg penting duit masuk ke kantong. Sssssttt … kepentingan masyarakat banyak ? udah ntar aja

DEWA, Kalo dipikir pikir, ada baiknya pemerintah beli dari MS ato dll, daripada dicap negara pembajak….. @para pemberi komentar yg bacotnya gede: “HANYA SATU COMMENT UNTUK KALIAN…… YOU BETTER ALL GO TO HELL BANYAK OMONG, GA ADA KEMAMPUAN…. ”

rutam, aduhh pak onno kalo open sourcenya nggak didukung sama manufacture h/w…mau gimana lagi pakk?? lebih baik kita menggunakan strategi cina melegalkan bajakan sambil membangun manufacture h/w sendiri…lbh baik ajukan usulan yg membuat investasi manufacture h/w tertarik di indonesia dng catatan harus mendukung platform igos atau usulan yg lebih cerdik lainnya, jgn teriak membodohi rakyat kalo solusi yg bapak tawarkan juga nggak kuat

gureita, kalo gw sech dukung pendapatnya om ono…knp? krna beliau tetangga gw😀 ayo donk kaum underground mulai muncul ke permukaan and galakkan penggunaan opensource klo perlu bikin juga training gratis,atau bikin demo depan istana sekalian kan keren tuch jadi demonya bukan cuma ributin hal yg itu2 trus!!kadang suka bete denger/baca berita ada anak negri yg harus rela menjual kewarganegaraannya yg notabene hanya karena RUPIAH karena otaknya kurang -baca tidak-dihargai oleh negri sendiri yg dengan lantang menggalakkan motto CINTAI DAN GUNAKAN PRODUK DALAM NEGRI…uek!!!munafik

zzzzzzz, klo rakyat ngk maudi bodohi makanya jgn jd org bodoh dan yang udah pinter bagi2 ilmunya utk yg masih bodoh..
badaitopan, saya bangga dengan komentar pak onno, ini sangat diperlukan bagi semua penduduk di Indonesia.karena dengan demikian kita tidak dibodohi dengan “niat baik pemerintah”. mudah-mudahan dengan ini banyak lagi bermunculan orang-orang seperti bapak onno….. maju terus bangsaku… MERDEKA!!!

Alex, kalo omong microsoft , nggak ada habisnya , kalo bicara linux , sama juga nggak ada habisnya, nah kalo bicara praktisi Indonesia , please deh, jangan cuma komentar aja, bawa ke pemerintahan, buktikan kalo kalian mampu, komentar saja nggak ada gunanya tanpa pembuktian nyata, saatnya bergerak PRAKTISI INDONESIA HIDUP IT INDONESIA

lutfi saifullah, ko gak mementingan rakyat sendiri sich!! hasil karya anak bangsa biasanya harus didukung oleh pemerintah,bukannya mendukung karya anak bangsa malah mendukung hasil luar negeri “piye iki” wong pinter ko malah di jual keluar negeri kapan bangsa ini akan maju jika pemerintah tidak mendukung hasil karya bangsa dan menjual hasil olahan anak bangsa.

14 comments

  1. microsoft lebih memilih produknya dibajak dengan menjual produknya dengan harga yang tinggi.

    mungkin gak ya ?,microsoft punya windows free edition, paling gak untuk home dan education.

  2. kenapa pake linux?

    bagaimanapun juga sebenarnya windows memberi lebih banyak kemudahan dalam pemanfaatan komputer setidaknya sampai saat ini. tapi saya memaksakan diri saya memulai memake linux karena beberapa aspect:
    1. alasan pribadi, linux halalan thoyyiba, komputer saya bisa lebih barokah, he… sudah tahu! tak perlu di bahas lebih lanjut.
    2. saya hanya punya 3 pilihan : 1.windows original berbayar,but! I won’t pay my sweat-money to the mr bill-ionaire- gate. dia sebenarnya sudah tidak terlalu memperdulikan uang saya yang sedikit itu (padahal saya mengumpulkannya lembar demi lembar). antikemapanan kali , 2. windows free berbajakan, tapi ini membuat saya tidak nyaman kalo digunakan untuk urusan komersiil, takut razia, 3. linux free, freedom on (almost) everything we do!. hmm…,
    3. i am really deep believe linux will replace windows. mungkin terdengar terlalu ambisius,
    tapi tidak! windows telah mencapai puncakknya (puncak aplikasi dan pemanfaatan komputer). seperti kurva sinus telah sampai puncak gunungannya. lihat apa yang fundamental yg ditawarkan win vista? cm grafis yang lebih bagus, mgkn bbrp fix bugs, update aplikasi n database, semua pada dasarnya sudah bisa dilakukan win XP yg thn 2000 lalu, bahkan win 98 (yg sebenarnya cm miskin hardware database)!!!. sedang linux dlm grafik menanjak. some day friends, some day, linux will get the point. suatu saat, yg segera tiba ini, nanti linux akan setara dgn windows. linux akan segera mencapai puncak gunungnya. karena pada dasarnya major aplication has been covered!
    4. apa yang bisa dilakukan mr bill dkk sudah tidak banyak lagi. fokus mereka sekarang hanya membuat CANDU windws, kalo semua orang sudah tergantung dalam windws, dan banyak orang tak bisa lepas dari windws akan semakin mudah bagi mereka mengeruk lebih banyak ceruk pundi2 uang kita. windws dan banyak aplikasi (yang sebagian besar berbayar mahal, kalo semua bayar mgkn lebih besar dari pda beli PCnya!!) yang mendukung dan mengais-ngais di belakang konglomerasinya membuat hal ini berketerusan. contoh sederhana, mungkin, apa susahnya bagi window untuk membuat anti virus terintegrasi dgn windws dari dulu, pdhl virus udah nyerang sejak jaman DOS taun 90-an dulu. Mereka membiarkan LUBANG ini menganga. lubang ini jg bernilai million dollar man!!, dan masih banyak lubang lagi yang diatasnya harus diambil lagi lembaran dolarnya nya sebelum ditutup dan masih banyak lubang lagi. Some day, the only hole left to close is their mind!. Mereka sekarang hanya tinggal mencari sisa-sisa uang dari orang yang blm bayar royalti dgn menekan negara2 berkembang yang lemah pengawasannya pada pembajakan atas nama hak cipta in telek tual. why? because they know, their time is limited! waktu mereka hampir habis…
    5. linux akan terus berkembang karena banyak variannya, suatu saat kita bisa milih sesuai dengan environment pilihan kita sendiri, seperti suse, ubuntu, mandrake, knoppix dsb, dibanding windws yang one for all
    6. by the way wndws jg berjasa menghidupi dan membuat banyak orang jadi kaya, yang sebagian besar bukan orang kita. THEY DESERVE WHAT THEY EARN.
    7. win 98 yang msh cukup powerfull tidak dikembangkan lagi dan juga tidak digratiskan, huh!
    8. windws tidak disubsidi oleh pemerintah! window bukan sembako. I am sorry, windws is not for the poor. orang miskin (saya juga) dilarang pake!
    8. saya ingin dan sangat menghargai banyak orang yang telah bersusah payah meluangkan waktu dan pikiranya, uangnya, dst, membangun OS yang mengesankan ini, hanya demi agar SAYA dapat memakainya dengan GRATISSS!!
    KNOWLEDGE FOR THE WORLD

    april 2008

    1. Yang penting halal. Saya setuju dengan Mas Jojo. Yuk hidup damai. Kita sudah tidak usah gelut-gelut membodohkan. Yang penting kita semua satu. Winda, Lina, Maca, Beesda, Solaria, ah… semua ciptaan manusia. Bermanfaat semua itu buat kita.

      Winda…Winda… Dia bagus kok. Mantap Jaya! Lina? Ah, pendatang baru yang dinamis. Maca? Uah, luks-luks-luks… Lainnya? Sedap! Yuk hidup apa adanya!😉

      Ayo hidup damai! Damai itu enak!😀 Semoga Allah meridai sampeyan, mas. Saya senang dengan prinsip halal itu. Wassalam.

  3. mas jangan sok tahu ya…, yang menemukan OS Linux itu namanya bukan Linux tapi linus, mas inget ga’ pepatah jawa jangan mengubah nama orang karena dia bisa sakit. udah makasih dulu

  4. linux kenceng oi, setelah dibandingkan dengan windows xp, vista, kencengan linux… gak bikin strees… sama2 spek komputer tinggi tetep kencengan linux…

  5. Seneng juga bisa main kesini. Tak denger ada yg menghujat openSUSE habis2an. Begini mas, saya pengguna setia openSUSE, sudah semenjak thn 2005 saya pakai sampai sekarang ndak ada masalah. Yg saya lihat masalah2 yg anda hadapi itu karena status anda yg masih pemula. Jadi terlalu cepat anda memvonis buruk pada openSUSE.

  6. Linux biarpun open source, tapi tetap ga bakalan bisa merakyat kaya windows, mungkin bagi yang advance akan bilang gampang,tp bagi yg newbie susahnya minta ampun, bikin streess, instal printer aja kudu muter-muter, apalagi yang lain, mabook dehh…
    mungkin perlu di sederhanakan lagi kali biar ga rumit.

    Kalau aku pribadi sihh.. mendingan nungguin OS Chromenya mas google, dari pake linux, bikin linu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s